Tanyaku 1

Pancasila merupakan dasar negara dan juga pandangan hidup bangsa. Seiring berjalannya waktu, sudahkah dan masihkah Pancasila masih menjadi dasar negara dan pandangan hidup bangsa?

Pada titik ini, layak bagi kita untuk menguraikan dan mempertanyakan kembali tentang posisi Pancasila. Sudah banyak diskusi yang membicaraka dan mengkaji Pancasila. Namun, pertanyaan lain yang lebih mendasar adalah sudahkah kajian terkait dengan Pancasila memberikan kontribusi bagi kesejahteraan rakyat?

By khanifsalsabila Posted in Uncategorized

Ketika

Luruh benci bersama luka

Ketika pengharapan tak mampu digapai

Ketika mimpi terlalu indah untuk diucap

Ketika usaha berbatas pada keadaan

Ketika itu, diri tak mampu lagi menanggung derita

 

Sudut Yogyakarta, 27 April 2016 (20:27)

 

By khanifsalsabila Posted in Uncategorized

Lelaki yang “Mesake”

Namanya  Juan., laki-laki muda yang menghabiskan hidup dan ambisinya. sebetulnya ia bukan tipe orang yang prefeksionis. Hanya saja ia memiliki ambisi dan mimpi yang besar. Terkadang saking banyaknya mimpi, tidak ada satupun yang terrealisasi.

Ia memiliki dunia yang tidak banyak orang mampu memahaminya. Meski demikian ia tetap menjalankan hidupnya sesuai dengan pemahamannya.

Orang yang mengkritiknya selalu ia dengarkan, mungkin karena jiwanya  sudah “tergadai” dengan pandangan orang.

Ia akan mengutuk diri saat orang lain menatapnya dengan nyinyi, tak jarang ia membalas dengan hal serupa atau lebih parah kepada orang lain.

Juan, ia adalah lelaki muda, miskin, penuh ambisi yang “mesake”

By khanifsalsabila Posted in Uncategorized

Yang Teristimewa

Aku duduk di tepi jalan, sebisa mungkin memandang setiap orang yang berlalu lalang di depanku. Sebagian lewan dengan tersenyum, ngobrol dengan orang yang ada di depan atau di belakangnya. Sebagian, tak henti menekan klakson mengeluarkan bunyi nyaring yang membuatku jengkel. Mungkin, si Bapak tengah terburu-buru pantas saja meminta orang untuk minggir dari jalannya.

Ruko-ruko beberapa ramai dukunjungi. Ruko percetakan ramai oleh pelanggan, toko peralatan mendaki lumayan sepi pelayannya duduk dipojok sambil mengantuk. Sedangkan di ruko yang lain pelayan terus saja mengikuti pelanggan yang sedang memilih baju. Mungkin, penjual takut kalau barang dagangannya ada yang hilang. Entah apa sebab, sang pembeli keluar dari toko baju. Bisa jadi karena ia tidak menemukan seleranya atau risih dengan “penguntit”.

Semua nampak biasa saja, kecuali aku yang duduk di tepi jalan tanpa tujuan dan tanpa alasan.

By khanifsalsabila Posted in Uncategorized

Belajar dari Toyotomi Hideyoshi

Hideyoshi, mungkin banyak orang yang sudah familiar dengan nama itu. Namun, bisa jadi juga tidak banyak yang pernah mendengar nama itu.

Penulis juga baru mengenal namannya 5 tahun yang lalu. Ketika sebuah “amanah” di kampus dan gelora dialektika membuat penulis ingin mengenal banyak tokoh, strategi politik, bagaimana seseorang dinaungi keberuntungan hingga ia bia melenggang di titik karir tertingginya. Membuat orang berdecak kagum atas keberhasilan tokoh tersebut.

Hideyoshi, adalah tokoh yang penulis pilih pagi ini. Kala langit mendung, kala gerimis membasahi bumi, mengahdirkan kesan syahdu. Ketika hati mulai bosan dengan segala rutinitas yang membosankan, tak jarang berfikir bahwa ini tak lebih dari mengahbisjan sang waktu dengan ketidak pastian, dan juga “kengenesan”.

Kembali pada Hideyoshi, ia adalah tokoh legendaris Jepang. Pemimpin yang berhasil menyatukan jepang setelah lebih dari 100 tahun tercabik-cabik.Hideyoshi, bukan keturunan bangsawan meski ia pernah menjadi wakil kaisar.

Hideyoshi, hanya laki-laki miskin, kaum petani yang menjadi yatim ketika masih belia. Meninggalkan sekolah kuil, karena bosan belajar. Berkelana berbekal tabungan Sang Ibu beberapa koin tembaga yang kemudian dibelanjakan jarum oleh Hideyoshi.

Dunia perdagangan tak berpihak padanya, atau lebih tepatnya Hideyoshi tak memiliki jiwa pedagang. Membiarkan kakinya mengelana semakin jauh, bertemu samurai yang menjadikannya pembantu rumah tangga. Ia, Hideyoshi, tak pernah mengeluh, melakukan tanggungjawabnya dengan baik. Kerja keras dan ketekunan inilah yang menaikan dari penjaga kuda menjadi kepala gudang.

Salah satu yang ia ajarkan adalah “Terbayangkan berarti terjangkau”. ini bukan tentang keinginan saja, namun impian yang diikuti dengan kerja keras. Hideyoshi membuktikan kata-kata tersebut.

Banyak hal yang dilewati Hideyoshi hingga ia berpindah dari tuan yang satu ke tuan yang lain. Hideyoshi, mantan gelandangan yang berperawakan seperti monyet, dan tidak pandai ilmu bela diri, ternyata dapat menjadi pemimpin yang legendaris. Diawali sebagi pembawa sandal seorang bangsawan, hingga wakil kaisar.

Jika Hideyoshi, si petani miskin saja. mengapa kita tidak bisa?

Selamat Pagi….semesta

#Ruang Karya, 4-5-2015 (10:39)

By khanifsalsabila Posted in Uncategorized

Orang Tua-Orang Tua yang Mengintervensi

Dunia kian menyempeti, dalam arti yang sebenarnya dan juga arti kiasan. Saat arus globalisasi memudahkan semuanya, mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat, memudahkan yang sulit. Saat itu pula pola pikir manusia berubah, termasuk pola pikir orang tua. Dunia seakan “menyeting” bahwa orang tua yang memiliki anak kecil atau remaja berlomba-lomba untuk melibatkan anak mereka dalam “pertarungan” dunia yang kejam ini.

Beberapa orang tua akan menjadi bijak dengan memberikan kebebasan kepada anak untuk berkembang sebagaimana yang anak inginkan. Beberapa orang tua yang lainnya cuek dan tidak peduli dengan perkembangan anak dan juga “pertarungan” dunia. Namun, ada pula orang tua sibuk melakukan intervensi terhadap anak.

Orang tua yang melakukan intervensi yang saat ini ingin dibahas oleh penulis. Entah pertimbangan apa yang dijadikan dasar hingga para orang tua bersikap seakan nasib anak ditentukan orang tua. Memaksa anak untuk menjadi ini, menjadi itu, diikutkan dalam les ini, les itu. Hingga jadwa les atau belajar anak lebih padat dari pada jadwal orang tuanya sendiri, bahkan jadwal artispun lewat.

Ambisi orang tua yang menggebukah?  Atau memang anak tersebut menyukai rutinitas tersebut. Menjadi sedikit masalah jika memang anak menyukai rutinitasnya. Lantas bagaimana jika kegiatan anak tersebut tidak lebih dari melaksanakan kewajiban anak terhadap orang tua yang senantiasa mendikte dan mengintervensi anaknya. Bukankah hal itu menjadi mengerikan?

#Ruang Inspiratif

Sudut Yogyakarta, 30-4-2015 (7:59)

By khanifsalsabila Posted in Uncategorized

Guru….Jangan Marah….

Guru….

tulisan ini, ditujukan untuk para guru yang ada di seluruh pelosok nusantara. Bukan untuk menggurui, hanya ingin sedikit berbagi pandangan.

Menjadi seorang guru sering berhadapan dengan anak yang susah diatur. Ketika penulis curhat tentang susahnya mengatur anak-anak di sekolah, maka Ibu akan menjawab “Mengatur anak sendiri saja susah, apa lagi mengatur anak orang lain. Itu resiko, jika dijalani dengan baik dan bijaksana, maka nanti hasilnya juga baik”.

Begitulah yang dikatakan oleh Bunda penulis, membuat penulis terkadang menjadi semakin merasa putus asa. Amarah itu begitu menggebu, ketika permasalah pribadi saja sudah membuat kita “sumpek” ditambah lagi dengan permasalahan siswa. Betapa sang guru mencampur adukan masalah pribadi dengan permasalahan pendidikan di sekolah.

Bad mood ini berdampak buruk, ketika siswa sedikit bertingkah membuat sang guru “senewen” bukan kepalang.

Guru….jangan marah….
Kalimat ini bukan diungkapkan pada orang lain saja, namun juga untuk pribadi penulis. Sangat disadari bahwa penulis sering kali termakan oleh ego pribadi, ketidakmampuan mengendalikan diri, dan tidak mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Ketika amarah itu meletup yang mungkin hanya beberapa menit, akan berdampak luas. Khususnya bagi perkembangan anak, bukan hanya sekedar sang guru akan di”cap” sebagai guru galak. Tapi, lebih pada tekanan psikologis anak.

Ada sebuah peneliti yang menyebutkan bahwa sekali guru marah, maka akan berjuta syaraf neuron anak terputus pada saat itu. Bisa dibayangkan, bagaimana guru bertanggungjawab ketika tak mampu mengendalikan diri. Menuruti amrahnya, meletup dan milyaran syaraf neuron akan terputus.

Bagaimana sang guru memperbaikinya?

Bagaimana sang guru mempertanggungjawabkannya?

Guru…Jangan Marah….

Tarik nafas….Tenang…dan Senyum…. 🙂

#Ruang Inspiratif

30-4-2015 (13:13)

By khanifsalsabila Posted in Uncategorized