Berpisah Saja

Jika bersama tidak selalu membuat kita bahagia

Jika menyatu menyisakan kutuk

Berpisah saja

Mungkin dengan begitu beban akan menguap

Mungkin dengan begitu semua akan baik-baik saja meski tidak bisa kembali seperti semula

Berpisah saja agar kita tidak lagi saling torehkan luka

Berpisah saja lalu kita memilih jalan hidup masing-masing

Aku dan Perjalanan

Saya menyukai perjalanan.

Saya suka duduk di tepi jendela bus, kereta, kapal, ataupun pesawat.

Aku suka memandang keluar, sedangkan pikiranku berkelana mencoba mengupas setiap hal yang ditangkap oleh mata.

Aku menyukai perjalanan dengan sepeda motor.

Pada saat inilah terjadi pembicaraan liar antara aku dengan diriku yang lain.

Aku sering mengutuk diriku yang lain, namun ia tak pernah marah.

Aku juga sering memuji diriku yang lain, tetapi ia tak pernah menjadi tinggi hati.

Saat diriku bertanya pada diriku yang lain, maka ia akan menjawabnya dengan detail, logis. Meskipun, tak jarang lebih seperti pembelaan.

Bagiku perjalanan bukan hanya tentang kita menuju kemana.

Perjalanan adalah momen agung saat aku bisa berbicara dengan aku yang lain.

Perjalanan adalah momen dzikir saat aku bertanya banyak hal kepada Allah SWT.

Perjalanan…

 

Kamu

Kamu adalah buku yang ingin baca setiap lembarnya.

Mengeja setiap kata yang tertulis.

Memaknai setiap kalimat-kalimat utuhmu.

Kamu adalah buku yang tak pernah usai ku baca, namun takdir menyuruhku berhenti.

Mungkin ada buku lain yang harus ku baca.

Mungkin ada buku lain yang harus ku nikmati tanpa lalai pada Sang Pencipta buku itu .

 

Keluh

Boleh marah?

Boleh

Boleh sedih?

Boleh

Boleh kecewa?

Boleh.

Boleh menangis?

Boleh. Yang tidak boleh adalah berlebihan.

Marah, sedih, kecewa, menangis menunjukan kalo kamu adalah manusia. Maka menangislah jika itu membuatmu lebih lega hatinya. Namun, jangan berlebihan apalagi jika harus mengumbar kepada orang lain.

Cukup Allah saja yang kau mintai solusi dengan begitu hatimu tidak akan semakin tersakiti.

Sudut Kebumen, 29 Juni 2019

20:41

Kebahagiaan, Kesakitan, dan Keikhlasan

Foto keluarga muda lengkap dengan bayi yang masih merah serta senyum terkembang dari kedua orang tua tentu hal yang mengagumkan dan membuat iri orang yang melihatnya. Para kaum jomblo baper tingkat Himalaya dan berharap ingin segera berpose sebagaimana foto yang ia lihat.

Namun, berapa banyak dari kita yang sadar bahwa dibalik foto kebahagiaan itu tersembunyi rasa sakit dan juga pembelajaran tentang keikhlasan.

Sang Ibu muda harus menahan sakit sehabis melahirkan, miring ke kanan sakit, ke kiri sakit, duduk susah, apalagi bangun dan berjalan. Rasa sakit ini tak jarang menyisakan baby blues atau gangguan emosi. Hal ini kadang ditambah dengan permasalahan asi.

Tentu dalam hal ini memerlukan peran yang besar dari pasangan dan juga dukungan dari keluarga.

Keikhlasann atas semua hal tentu mudah dikatakan dan agak susah dijalankan.

 

Catatan untuk beloved nephew

12 Juni 2019

Welcome to the word baby girl’s

Sakeena Yumna Asshidiq

 

From your aunt

 

Sungai Tanpa Jembatan Part 1

“Heran dengan orang Jakarta, banyak jembatan tapi tidak ada airnya. kalo di tempat kami jembatan yang mengalir air bukan mobil” Hal ini sering jadi joke ataupun kritisan miris membandingkan Ibu Kota Negara dengan daerah lain. Namun, hal yang sama tidak berlaku di daerah kami. Di tempat kami banyak sungai, wolai (pertemuan aliran sungai dengan laut) tapi tidak ada jembatan. kami harus menyebrang dengan menggunakab rakit (jembatan mengambang). Kami sebut jembatan karena melewati wolai sehingga dapat dilalui. Disebut mengambang karena posisinya mengambang di atas air, tidak permanen sehingga dapat diangkat ketika sungai kering dan dapat ditarik untuk menghubungkan pinggiran wolai dengan pinggiran lainnya. Selain itu, kami dari Desa Gaimu kecamatan Gane Timur Selatan harus menyisir pantai, keluar masuk kebun untuk dapat ke jalur utama (jalan beraspal).

20180510_083136

Terima Kasih untuk Kasihmu

Selamat pagi semesta

Matahari sudah meninggi, berbanding lurus dengan rasa malas yang kian meninggi pula

Aku masih bertahan dengan rasa malasku, sama seperti aku bertahan dengan rasa rindu

Rindu padamu yang kian menggebu, meski kau mengabaikan dengan menganggapnya debu.

Aku berterima kasih atas kasihmu

Kasih yang kau ucapkan meski aku tidak tau itu nyata atau tidak.

 

Menunggu

Kelamnya malam tak membuat mata menutup.

lelahnya badan tak ingin direbahkan

Hanya demi menunggu jawaban darimu yang tak kunjung datang.

Menunggu…

Sadarkah kamu jika menunggu adalah hal yang menyakitkan bagiku

segeralah berikan jawaban dan kepastian kepadaku.

 

Sudut Bacan

15-3-2018

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑