Di antara malam gelap tanpa bintang, angin yang berhembus menusuk tulang. Ku rasakan kegelisahan yang demikian menjadi semalam. Merasakan kerinduan yang begitu dalamnya. Merindukan sholat berjamaah di masjid, merindukan qiyamul lail, dan kerinduan yang sama kuatnya pada mengaji, serta shaum sunah. Kebiasaan-kebiasaan yang telah lama ku lupakan yang karenanya ku rasakan kehampaan dan lupa diri yang semakin menjadi.
Namun,..sungguh kerinduan itu semalam menyapa begitu kuatnya. Hingga tak ada yang bisa ku lakukan selain tertunduk lesu pada sajadahku yang lusuh.
Ingat.,mengingat kembali yang telah lalu. Waktu yang terbuang sia-sia, hidup tanpa tujuan selaksa balon udara tertiup angin tak berbeban. Mengenaskan!
Hingga pagi menyingsing sesak di dada semakin terasa, kala fajar memeluk bumi ringan ku langkahkan kaki ke masjid. Tercengang dalam kesendirian ba’da shubuh, kala ku sadar bahwa masjid itu persis di depan tempatku tinggal, tidak lebih dari sepuluh meter. Namun kemalasan itu membentangkan jarak tak terukur.
Ah., kehangatan itu hadir. Sungai kecil mengalir di pipi hadir bersama kebeningan pagi. Hingga ku rasakan gelora cinta yang luar biasa. Aku pun tersadar bahwa gelora ini pernah hadir sebelumnya dalam hatiku, mengisi setiap sudut relung jiwa, dalam kejernihan berpikir dan dalam keluwesan bersikapku.
“Ya Allah.,,ku rasakan cintaku bersemi kembali. Merasakan gelora cinta yang demikian memenuhi hati hingga meringankan setiap langkahku. Meski aku tau bahwa cinta ini layakanya iman yang mengalami flukuatif, pun terkadang cintaku pada-Mu mengalami inflasi. Pun ketika mengalami inflasi, ku harap tidak akan terhempas hingga cinta itu tak tersisa. Terima kasih atas kesempatan yang Engkau berikan pada hamba-Mu ini. semoga saja gelora cinta ini tidak hanya sekedar singgah, namun menetap.”
Ruang Perenungan
Sudut Yogyakarta, 27 Maret 2012 (16:25)
_Bersama senja yang hangat dan anggun merefleksikan setiap langkah kaki berjalan_bukan untuk riya, namun sekedar berbagi_keep spirit and keep istiqomah 