Latest Entries »

Keindahan itu telah hilang bersamaan dengan sepoi angin malam ini
Merajut letih dalam dekap yang tak disambangi
Ku merayu padamu untuk tak pergi
Bersama letih menghilangkan pikiran yang runyam
Ku penuhi gelas-gelas kacaku dengan keindahan
Lalu tergugu menahan sakit
Ku rasakan yang sakit mulai hilang
Perlahan..pelan mengena
Ku ingin melupakanmu
Mengadu pada angin siang ini
Hanya panas yag kurasakan
Terdiam….
Bersama sepi yang menyepi
Kerapuhan ini semakin ku rasakan

Ruang Rindu
Sudut Yogyakarta, 11 Mei 2012 (14:30)

Titik tersulit

Berada pada titik-titik yang sulit
Di antara keputusan-keputusan yang runyam
Di antara ketidakpastian yang mencengangkan
Semua di antara ketidakjelasan adalah hasil
Efek dari sebuah proses yang kian tidak jelas
Biarkan saja semua mengalir dan bermuara
Pada satu titik yang belum jelas perwajahannya
Aku ingin merasakan gelora seperti ini setiap hari
Meskipun ketidakpastian adalah bagian lain yang tidak dapat direkayasa
Merayakan pesta, menuangkan madu terbaik ke dalam cawan terbaik
Lembut menghayati tiap tetes melebihi keindahan surgawi
Membiarkan angin malam membunuh secara perlahan
Tanpa kata, tanpa ekspresi yang ku sebut dengan pesakitan

Ruang Pesakitan
Sudut Yogyakarta, 11 Mei 2012 (14:24)

Dari Hati ke Hati

Tidak bisa tidak, pada akhirya memang hanya bisa ku maki diriku sendiri atas semuanya. Kebiasaan menyepelekan waktu yang kiranya tidak menguntungkan sama sekali. Setidaknya aku telah membuang waktu hampir seminggu atas tugas yang dead line-nya kian dekat. Malam tadi telah ku azam-kan diriku untuk menuntaskan tugas, namun faktanya karena kecerobohanku harus ku undur tugas yang tak jua mengalami progress.
==========================^_^ ^_^===========================
Siang ini, kembali ku sambangi perpus yang dari luar tidak nampak seperti perpus, namun sebaliknya seperti Ruko (Rumah Toko), wajar saja karena letak perpusnya memang di antara deretan Ruko-Ruko pusat perbelanjaan di kotaku. Jika dilihat dari luar memang kecil, tapi kalo sudah masuk ke dalam baru kita tahu sensasinya..hehehe

Ku putuskan untuk naik ke lantai II, lumayan horror meskipun lampu menyala. Memang belum lama ku kenal perpus ini, dan kali ini adalah kali ketiga ku “terpaksa” kesini. Namun, jujur saja ini adalah perpus yang membuatku betah berlama-lama dan tidak terasa menghabiskan waktu berjam-jam. “Perpus kearsipan” kurang lebih begitu nama di pintu depan. Dari namanya saja, kita sudah bisa menebak bahwa yang ada dalam perpus tentu saja data/arsip lintas generasi. Dan benar saja, awalnya ku terdampar di perpus ini dalam penyelesaian skripsi. Namun, ternyata kesan pertama dan kedua membuatku sadar bahwa “ku terkesan”. Bukan hanya dengan bangunan yang nampak mistis, bukan pula tumpukan buku tua ala film-film horror, bukan juga karena pengunjungnya yang sepi. Entahlah, yang jelas ku rasakan ada energi yang senantiasa membuatku kembali, kembali dan terus kembali.

Duduk berlama-lama di antara tumpukan arsip puluhan tahun yang lalu membuatku merinding, ku pikir ini bukan tentang yang menulis kemungkinan besar sudah meninggal. Tapi, asli. Tak bisa ku katakan apa yang terjadi pada diriku. Hanya saja lembar demi lembar yang ku buka demikian mengagumkan, di antara deretan panjang buku dan jurnal ku pilih jurnal sejarah politik. Dan “wow…” hanya itu yang bisa ku katakan, betapa ku terkagum pada jurnal tua terbitan tahun 1952 yang berjudul “Suara Partai Masyumi”….kumpulan tulisan yang begitu mengalir, jujur, lebih dari kearsipan yang menggambarkan masa lalu, terus tidak berguna untuk saat ini. bahkan aku meyakini bahwa tulisan-tulisan yang berisi petuah ataupun opini itu tidak “kuno”. Mungkin ini yang disebut dengan “Menyejarahkan diri…”
Bersambung…..
(Ruang Inspirasi, Sudut Yogyakarta 10 April 2012, 15:00)

Warna lain ceritaku

Di antara senja yang mendung jari jemariku bermain lincah di atas keyboard si miny (nama laptopku). Pikiranku menerawang jauh, mengevaluasi atas semua kejadian yang ku lewati hari ini. Hingga ku tersadar bahwa satu fase dalam hidupku telah ku lewati (ujian skripsi), maklum saja aku termasuk orang yang telat lulus dibandingkan dengan teman-temanku yang lain. Ah., akhirnya lulus juga tak ku sangka dengan hal yang memuaskan pula. Hanya bisa berkata subhanallah, wal hamdulilah, wallahu akbar, bukan apa-apa karena satu hari sebelum ujian salah satu dosen penguji menyampaikan bahwa beliau menyarankan agar ujian diundur dengan alasan skripsiku belum matang. Terang saja serasa tersambar petir di siang bolong, asli awalnya kesel abis, pokoknya campur aduk deh rasanya. Namun selepas dzuhur dan berdo’a sama Allah, hati menjadi tenang ternyata kiranya benar bahwa “dengan mengingat Allah hati menjadi tenang”. Aku ikhlas saja untuk penundaan ujian, hingga ada satu kejadian yang luar biasa, dan karenanya aku tetap ujian. Pun semalaman aku tidak bisa belajar, bagaimana bisa belajar jika air mata ini senantiasa mengalir. Jika ditanya tentu saja aku ingin segera ujian, tapi jika ujian dengan cara “seperti ini” tentu saja bukan hal yang ku inginkan. Sedih dan sakit hati, sungguh tidak ada kebahagiaan atas berita ujianku selain rasa galau yang begitu dalam. Menangis adalah satu hal yang kiranya hanya bisa ku lakukan, ku coba nasehat dari teman-teman namun tidak ada yang mempan, maka di malam sebelum ujian ku putuskan untuk memborong es krim dan cokelat untuk menenangkan diri dan Alhamdulilahnya berhasil.

Ah., pagi buta selepas sholat subuh ku sudah mandi, niat hati ingin belajar tapi baying-bayang peristiwa kemarin demikian nyata. Maka air mata kembali mengalir., hingga aku tak habis pikir ada apa dan kenapa diriku ini. hampir dalam setiap kenaikan kelas ku mengalami “pro-kontra”. Banyak hal baik itu urusan diri dengan orang tua, masalah kuliah dulu, masalah, fasilitas, masalah organisasi, bahkan ujian skripsi saja ku mengalami pro-kontra. Oh My God., ada apa dengan diriku ini??? hanya itu saja pertanyaan yang kini ada dibenakku. Meski ku lewati ujian skripsi dengan baik, namun aku meyakini bahwa ujian kehidupan tengah terbentang luas siap menghadangku dengan pro-kontra yang lebih dahsyat lagi. hanya saja ku berdo’a pada Allah “semoga Engkau mudahkan segala urusanku, meringankan setiap langkah kakiku, dan memantapkan hatiku di setiap pro-kontra yang ada”.

Tentu saja pro-kontra seperti ini bisa dialami siapa saja, aku, kamu, dia, mereka, namun yang perlu digaris bawahi adalah seberapa bijakkah kita menanggapinya dan ini juga menjadi tolak ukur dari kecerdasan emosional kita. Yakinlah yen Gusti Allah ora sare!

Ruang Perenungan

Sudut Yogyakarta, 3 April 2012 (16:38)

Ekspresi Cinta….

Tidak bolehkah kita mencintai?

Tidak bolehkah kita mengekspresikannya?

Siapa yang bilang kita tidak boleh jatuh cinta, cinta adalah sebuah fitrah, yang kehadirannya menjadikan oase di padang tandus, penyejuk dalam kegersangan, kebeningan dalam keruwetan. Hanya saja yang perlu kita tahu adalah cinta jenis apa yang kita miliki.

Berani mencintai berarti berani memberi, bukan meminta atau bahkan menuntut.

Berani mencintai maka harus siap dengan konsekuensi bahwa kadang yang kita cintai tidak seperti yang kita inginkan.

Namun, mengertilah pada hakikatnya cinta itu memberi dengan penuh kesungguhan hati.

Ekspresikanlah cintamu, pun bukan dengan berlebihan, yang karenanya kau justru menyakitinya.

Karena pada hakikatnya cinta menyembuhkan luka yang berdarah, bukan membuat luka berdarah kian menganga.

Ekspresikanlah cintamu dengan cara kebaikan yang nantinya juga akan menghadirkan kebaikan.

Tentu saja semua orang punya cara dalam mengeskpresikan cinta, kita pun tak berhak melakukan penghakiman atas ekspresi cinta tersebut selama tidak merugikan orang lain.

Ruang Inspirasi

Sudut Yogyakarta, 28 Maret 2012 (10:55)

_Refleksi atas aksi anak negeri yang mencintai ibu pertiwi_

Cintaku Bersemi Kembali

Di antara malam gelap tanpa bintang, angin yang berhembus menusuk tulang. Ku rasakan kegelisahan yang demikian menjadi semalam. Merasakan kerinduan yang begitu dalamnya. Merindukan sholat berjamaah di masjid, merindukan qiyamul lail, dan kerinduan yang sama kuatnya pada mengaji, serta shaum sunah. Kebiasaan-kebiasaan yang telah lama ku lupakan yang karenanya ku rasakan kehampaan dan lupa diri yang semakin menjadi.

Namun,..sungguh kerinduan itu semalam menyapa begitu kuatnya. Hingga tak ada yang bisa ku lakukan selain tertunduk lesu pada sajadahku yang lusuh.

Ingat.,mengingat kembali yang telah lalu. Waktu yang terbuang sia-sia, hidup tanpa tujuan selaksa balon udara tertiup angin tak berbeban. Mengenaskan!

Hingga pagi menyingsing sesak di dada semakin terasa, kala fajar memeluk bumi ringan ku langkahkan kaki ke masjid. Tercengang dalam kesendirian ba’da shubuh, kala ku sadar bahwa masjid itu persis di depan tempatku tinggal, tidak lebih dari sepuluh meter. Namun kemalasan itu membentangkan jarak tak terukur.

Ah., kehangatan itu hadir. Sungai kecil mengalir di pipi hadir bersama kebeningan pagi. Hingga ku rasakan gelora cinta yang luar biasa. Aku pun tersadar bahwa gelora ini pernah hadir sebelumnya dalam hatiku, mengisi setiap sudut relung jiwa, dalam kejernihan berpikir dan dalam keluwesan bersikapku.

“Ya Allah.,,ku rasakan cintaku bersemi kembali. Merasakan gelora cinta yang demikian memenuhi hati hingga meringankan setiap langkahku. Meski aku tau bahwa cinta ini layakanya iman yang mengalami flukuatif, pun terkadang cintaku pada-Mu mengalami inflasi. Pun ketika mengalami inflasi, ku harap tidak akan terhempas hingga cinta itu tak tersisa. Terima kasih atas kesempatan yang Engkau berikan pada hamba-Mu ini. semoga saja gelora cinta ini tidak hanya sekedar singgah, namun menetap.”

 

Ruang Perenungan

Sudut Yogyakarta, 27 Maret 2012 (16:25)

_Bersama senja yang hangat dan anggun merefleksikan setiap langkah kaki berjalan_bukan untuk riya, namun sekedar berbagi_keep spirit and keep istiqomah ;)

 

Biarkan mengalir natural
Tanpa pemaksaan dan juga dibuat-buat
Bersikaplah layaknya orang dewasa
Tidak perlu memperpanjang masalah
Merunyamkan hal yang sudah runyam
Yang karenanya kau pusing
Hingga tak beraturan untuk memperbaikinya
Adakah pemikiran membenahinya?
Hingga kau merasa menegakkan benang basah?
Tegap dalam langkah
Optimis dalam mengeksekusi mimpi
Ku harap kau akan mengerti
Arti kerja keras dan pasrah pada Sang Penggenggam takdir

Ruang Sepi
Sudut Yogyakarta, 26 Maret 2012 (17:28)
_Bersama pesona senja_

Tentangmu…

Dalam…

Mendalam…

Terpendam begitu dalamnya.,

Tersimpan begitu rapi di sudut hati.,

Lupa…

Setidaknya belajar untuk melupakannya.,

Nyatanya membekas ditempatnya.,

Mencoba menghapus dan menggantikan dengan cerita yang lain

Tapi tetap saja tak seindah cerita tentangmu.,

Terlihat dan terkesan berlebihan.,

Dan aku menganggapnya dari ketidak mampuan mengolah rasa

Bahkan harus seratus tahun lagi, aku tak akan menolak

Biarlah ini mengalir dalam damai.,

Menjadi cerita yang mengesankan nantinya.,

 

Ruang Rindu

Sudut Yogyakarta, 23 Maret 2012 (12:28)

_Bersama memori 16072003_

Penyakit yang sulit untuk disembuhkan salah satunya adalah menunda. Sebuah penyakit yang kiranya juga tengah melanda diriku ini. Penyakit yang pada akhirnya membunuh diri sendiri.

Tidak pernah kita sadari bahwasanya penyakit menunda adalah penyakit yang begitu ganasnya perlahan membunuh tanpa kita sadari. Hal yang perlu di ingat adalah mengurai dari sikap kita, bahwa menunda itu sama sekali tidak menguntungkan. Apa lagi jika yang kita tunda adalah hal yang baik, namun jika yang kita tunda adalah hal buruk lain perkara.

Kembalilah menata hal apa saja yang masih bisa ditata, eksekusi perlahan dan satu persatu. Mengumpulkan pekerjaan menjadi satu tumpuk kiranya juga bukan pilihan yang bijak, karena hal ini akan merepotkan diri sendiri.

Mulailah membunuh penyakit menunda itu, mulai darai sekarang

 

Ruang Inspirasi

Sudut Yogyakarta, 23 Maret 2012 (09:29)

_Bersama dhuha yang mendung_Jum’at bersemangat_

Karenamu….

Ku tuliskan ini bersama derai air mata

Ku ungkap ini bersama kesucian yang terurai

Bersama dengan penyesalan yang berkepanjangan

Menghitung kasih yang mendalam

Menghitung cinta yang tak pernah terungkap

Ah.,

Betapa luka itu begitu dalam

Memberikan semua yang aku punya pun tak mampu

Segenap rasa yang tak tergambarkan

Ku ingin mengurainya bersama senja ini

Menjadikan lukisan terindah

Cerita yang melebihi cerita dalam dongeng

Cerita yang karenamu aku tetap hidup

Cerita yang karenamu aku tetap tersenyum

Cerita yang karenamu akan ku nyalakan lilin impian

Karenamu dan untukmu

 

Ruang Rindu

Sudut Yogyakarta, 22 Maret 2012 (17:42)

_Bersama senja yang anggun, karenamu dan untukmu Si Mbah Kakung dan Si Mbah Putri sepenuh cinta_

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.